Memaksimalkan Kesempatan

Juli 04, 2016


Oleh Ngainun Naim
 
Ternyata Prof. Mulyadhi menulis tangan dulu sebelum diketik
Selalu ada rasa kecewa dan penyesalan yang mendalam apabila dalam satu hari, tanpa alasan yang jelas, aku gagal menghasilkan sebuah tulisan, atas kesadaran bahwa tugas utama manusia hidup di dunia adalah untuk berkarya, sehingga bisa meninggalkan sesuatu yang berharga bagi umat manusia. Tanpa karya maka sesungguhnya manusia telah mati sebelum waktunya—Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara

Kutipan di atas berasal dari status facebook Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, seorang profesor filsafat Islam yang karya-karyanya mendapatkan berbagai apresiasi. Bagi saya, status facebook Prof. Mulyadhi tersebut sungguh menggetarkan. Ya, sangat menyentuh kesadaran saya sebagai seorang manusia.
Saya berbeda sama sekali dengan Prof. Mulyadhi dalam hal menulis. Tidak menulis itu hal biasa. Walaupun saya berusaha menutupinya dengan membuat status facebook yang seolah bersemangat, realitasnya kadang tidak semacam itu. Saat semangat itu menurun drastis, status facebook semacam ini sungguh memiliki peranan yang sangat besar.
Prof. Mulyadhi, menurut saya, adalah ilmuwan yang konsisten dalam berkarya. Karya-karyanya tersebar dalam banyak bentuk, khususnya buku dan artikel jurnal. Jika fisiknya sedang prima, beliau terus berkarya.
Konsistensi dalam menulis inilah yang membuat saya berusaha untuk meneladaninya. Walaupun jelas, kualitas dan konsistensinya masih harus terus diperjuangkan. Kualitas tulisan saya jelas jauh, bahkan sangat jauh, di bawah kualitas beliau. Sementara konsistensi juga masih harus terus diperjuangkan. Namun demikian, setidaknya saya terus berusaha untuk menulis dengan berdasarkan kepada kemampuan yang ada.

Memang, saya belum sampai pada level menyesal jika satu hari saja tidak menulis. Bagi saya, tidak menulis itu biasa. Mungkin karena level Prof. Mulyadhi yang sudah sangat mendarahdaging dalam spirit keilmuannya sehingga beliau menyesal jika sehari tidak menulis.
Intinya saya berusaha untuk menulis sebisa mungkin agar berkontribusi bagi diri saya dan orang lain. Soal bentuk kontribusinya seperti apa dan seberapa ukurannya, bukan menjadi kewenangan saya. Insyaallah menulis dan menyebarkannya di media sosial memberikan manfaat dan keberkahan dalam hidup. Semoga.

Trenggalek, 3 Juli 2016.

14 komentar:

  1. Gaya cueknya bapak cukup menginspirasi saya di akhir paragraf. Mantul pak...

    BalasHapus
  2. Terima kasih selalu menghujani kami dengan inspirasi, Bapak. Semoga Bapak Naim panjang umur dan berkah kehidupannya. Dan kami bisa mereguk ilmu yang Bapak genggam.

    BalasHapus
  3. Terima kasih karena bapak tak hentinya memberikan kami motivasi untuk menulis..semoga bapak sehat selalu dan bisa terus berkarya..aamiin

    BalasHapus
  4. Terima kasih Prof.atas dorongan untuk selalu menulis. Barakallah..

    BalasHapus
  5. Dinamika tulisannya terlihat, bila dibaca
    dan dibandingkan 4 tahun yg lampau

    BalasHapus
  6. Kembali saya harus mengucapkan terima kasih kepada Bpk Ngainun Naim yang terus memotivasi kami u menulis setiap hari,untuk menjadi orang yang bersnfaat bagi diri dan orang lain.

    BalasHapus
  7. Amunisi semangat menulis ini semoga semakin memotivasi kami

    BalasHapus
  8. Trimakasih pak, atas ilmu ilmunya..

    BalasHapus
  9. Selalu menjadi pencerah dalam gelapnya rasa malas.terimakasih bapak

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.