Kopdar Grup WA Belajar Online

Maret 22, 2019
Ngainun Naim



Menulis merupakan bagian tidak terpisah dari profesi seorang dosen. Mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian kepada masyarakat—dikenal sebagai tri darma—mengharuskan adanya laporan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Tanpa keterampilan menulis yang memadai, agak berat bagi seorang dosen untuk meniti karir secara lancar sebab kenaikan pangkat seorang dosen mengharuskan adanya karya tulis sebagai syarat.
Persoalannya, menulis sendiri itu tidak selalu mudah. Mungkin hanya sebagian kecil saja dari kalangan dosen yang memiliki keterampilan menulis secara memadai. Kelompok ini sudah terbiasa membuat artikel jurnal, menulis makalah ilmiah untuk seminar, membuat laporan penelitian dan pengabdian, menulis opini di koran, dan sejenisnya. Kebiasaan menulis inilah yang membuat karir seorang dosen bisa berjalan relatif lancar. Sementara sebagian yang lainnya menulis hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, misalnya untuk naik pangkat atau untuk laporan Beban Kerja Dosen (BKD).
Kita tidak bisa menutup mata dengan fakta adanya dosen yang membutuhkan dorongan agar bisa menulis secara lebih baik. Menurut saya, persoalannya bukan pada kemampuan. Saya sangat yakin sebagian besar dari dosen kita memiliki potensi dan kemampuan untuk menghasilkan karya tulis. Mereka telah menempuh pendidikan minimal S-2. Tidak sedikit juga yang sudah doktor. Jadi bagaimana mungkin mereka tidak bisa menulis?

Saya kira persoalannya bukan pada bisa atau tidak bisa, tetapi lebih pada mau atau tidak mau. Jika mau, pasti mereka bisa. Buktinya, mereka bisa menyelesaikan studi, membuat laporan penelitian, dan menulis artikel untuk kepentingan kenaikan pangkat.
Tetapi saya juga menyadari bahwa realitas memang tidak sesimpel yang saya pikirkan. Realitas itu kompleks. Jauh lebih kompleks dari apa yang kita amati dan kita teliti. Termasuk dalam hal ini adalah keterampilan menulis kawan-kawan dosen.
Jika kita mau menelusuri secara detail sebabnya di sebuah institusi pendidikan tinggi, tentu kita bisa menemukan sangat banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Namun catatan sederhana ini tidak akan mengulasnya. Saya akan bercerita tentang salah satu kegiatan yang pernah saya lakukan.
Suatu saat ada seorang kolega dari IAIN Ternate yang berminat dengan buku yang saya tulis. Beliau membaca status-status saya di facebook. Kepada beliau—Ibu Adiyana—saya kirimkan dua buah buku. Buku pertama adalah buku karya saya, Proses Kreatif Penulisan Akademik dan sebuah buku yang kebetulan saya edit, Dosen Menulis.
Rupanya Ibu Adiyana tertarik dengan buku yang saya edit, Dosen Menulis. Buku itu merupakan kumpulan tulisan bebas para peserta Pelatihan Menulis Online yang kebetulan saya menjadi mentornya. Singkat cerita, Ibu Adiyana berminat mengadakan kegiatan yang serupa di IAIN Ternate.
Karena sedang libur semester, saya berpikir memiliki waktu luang yang cukup untuk mengajar menulis secara online. Maka dibentuklah grup WA. Nama grupnya “Belajar Online 1”. Selama dua bulan—Januari sampai Februari—saya menyampaikan materi di grup itu. Nyaris setiap hari, meskipun karena satu dan lain hal, pernah juga saya tidak bisa mengisinya pada hari tertentu. Namun saya berusaha menggantinya di waktu yang lain.
Ternyata antusiasme peserta “Belajar Online 1” cukup tinggi. Materi demi materi yang saya sampaikan di grup WA ditanggapi secara serius oleh peserta. Tugas demi tugas juga dikerjakan. Saya menangkap ada semangat menulis yang harus terus diapresiasi dan dirawat. Semangat ini harus terus dijaga agar bisa tumbuh budaya menulis di tempat bekerja para peserta menulis, yaitu IAIN Ternate.
Sesungguhnya ada yang agak lucu, yaitu saya belum pernah sekalipun bertemu muka dengan peserta. Ini bagi saya menarik. Perkenalan, diskusi, dan perbincangan hanya dilakukan di grup WA. Saya kira ini merupakan satu kelebihan WA yang harus dimanfaatkan secara optimal. Bukan sekadar membuat grup yang isinya seringkali kurang bermutu.
Meskipun hanya melalui WA, grup ini secara subjektif bisa saya sebut sebagai grup yang cukup produktif. Nyaris setiap waktu ada saja anggota grup yang posting tulisan. Tulisan demi tulisan yang terpilih kemudian saya bukukan dan saya beri kata pengantar. Buku itu saya beri judul Jejak Literasi dari Ternate.
Rasanya ada yang kurang dari kegiatan belajar online ini, yaitu kopdar. Tentu suasananya akan berbeda antara perbincangan di grup WA dengan bertemu muka secara langsung. Ada hal mendasar yang tidak bisa ditemukan di grup WA, yaitu perbincangan secara humanis, melibatkan emosi, membangun keakraban, dan hal-hal mendasar lainnya. Di grup WA, hal-hal semacam itu sulit ditemukan karena tidak ada interaksi yang bersifat manusiawi.
Saya merasa bersyukur pada akhirnya mendapatkan kesempatan berkunjung ke Ternate dalam rangka koordinasi KKN Kebangsaan. Di sela-sela mengikuti kegiatan, saya berkesempatan berjumpa dengan teman-teman peserta Kuliah Online 1 di IAIN Ternate.
Rasanya bahagia sekali bertemu kawan-kawan semua. Pertemuan ini melengkapi suasana yang sebelumnya sudah terbangun cukup akrab di grup WA. Tentu, karena kami berbasis belajar menulis maka pertemuan pada jumat sore, 8 Maret 2019 itu, kami berdiskusi juga tentang menulis.
Hanya sekitar dua jam kami bertemu. Pertemuan singkat tersebut sungguh bermakna. Semoga hal-hal sederhana yang kami lakukan bisa memberikan manfaat buat kami semua. Amin.

Tulungagung, 17 Maret 2019

2 komentar:

  1. Mantap kali Pak, saya membaca karya buku anda Self Developmen sangat inspiratif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasinya. Oh ya, itu buku sederhana saja. Semoga bermanfaat. Salam.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.