Saya, Buku dan Dunia Menulis

Mei 14, 2019


Ngainun Naim



Saya lahir dari sebuah keluarga sederhana, bahkan sangat sederhana. Bapak pensiunan guru MI dan Ibuk adalah ibu rumah tangga biasa. Tentu pembaca sekalian bisa membayangkan beratnya menjadi PNS guru di era Orde Baru dengan enam anak.

Rumah kami saat itu jauh dari layak. Sejak kecil saya nyaris tidak pernah tidur di rumah. Bukannya tidak kerasan, tetapi karena memang tidak ada kamar tidur untuk saya. Hanya ada empat kamar sempit. Satu dipakai Bapak dan Ibu, sisanya digunakan 5 orang adik. Saya sendiri saat SD dan MTs lebih sering tidur di masjid.

Tidak pernah terbayang dalam diri saya tentang sebuah cita-cita. Pokoknya hidup ya dijalani dengan mengalir begitu saja.

Satu hal yang saya ingat betul sebagai titik awal minat membaca adalah sebuah majalah bernama Mimbar Pendidikan Agama (MPA). Majalah ini kemudian berubah nama menjadi Mimbar Pembangunan Agama. Penerbitnya adalah Kanwil Departemen Agama Provinsi Jawa Timur.

Sebagai guru, bapak berlangganan wajib majalah ini. Tanpa sengaja, saya sering membuka bagian belakang majalah yang terdapat sepuluh lembar khusus untuk anak-anak. Lembar ini diberi nama Lembar Anak-Anak (LAA).

Lembar Anak-Anak (LAA)  dari Majalah MPA benar-benar berpengaruh besar dalam hidup saya. Majalah inilah yang membuat saya sebagai anak desa berani bermimpi bisa menulis. Membaca puisi yang dimuat, foto anak-anak sebaya di rubrik kenalan, juga lukisan dari anak-anak yang terpajang menjadi daya dorong yang sangat kuat untuk bisa mengikuti jejak mereka.

Saat itu saya masih SD. Belum ada yang bisa memberikan informasi, apalagi bimbingan. Semuanya gelap. Tidak ada jalan yang bisa menerangi mimpi untuk menjadi penulis. Keinginan baru berhenti sebatas sebagai keinginan. Tidak lebih.

Keinginan bisa menulis semakin menguat saat saya duduk di bangku MTsN. Saya teringat momentum awalnya. Saat itu saya duduk di bangku kelas 2. Pelajarannya bahasa Inggris. Saya sangat benci pelajaran ini, selain bahasa Arab. Nilai rapor untuk dua mata pelajaran ini benar-benar mendekati titik nadir terendah. Tidak ada yang bisa membantu saya untuk menguasai kedua bahasa asing tersebut.

Guru bahasa Inggris yang mengajar di kelas 2 MTsN ini tampaknya berbeda. Orangnya masih muda. Saya kira usianya baru 26 atau 27 tahun. Cara mengajarnya sungguh menarik. Perlahan saya mulai memahami bahasa Inggris.

Ketertarikan saya pada guru bahasa Inggris tersebut tidak hanya pada caranya mengajar, tetapi juga pada kebiasaan beliau. Ke mana-mana beliau selalu menenteng buku. Saat ada kesempatan, beliau selalu membacanya. Kebiasaan itu memberikan inspirasi kuat pada diri saya untuk mengikuti jejaknya. Tentu tidak mudah membangun tradisi membaca kala itu, tetapi saya mencatat peran Drs. Muhammad Amrullah sebagai guru bahasa Inggris sangat penting bagi tumbuhnya tradisi membaca pada diri saya.

Guru bahasa Inggris saya ternyata seorang penulis. Itu saya ketahui di Majalah MPA. Ada nama beliau dan fotonya di artikel beliau di MPA. Tentu, kekaguman saya semakin bertambah. Dua hal yang saya catat di periode MTsN, yaitu fondasi membaca dan menulis. Ya, meskipun sekadar contoh dan belum bisa melakukan membaca dan (apalagi) menulis. Paling tidak saya mulai bercita-cita untuk bisa menulis.

Tamat MTsN saya melanjutkan studi ke MAN Denanyar Jombang yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang. Di sekolah ini, benih membaca semakin tertanam. Sayang, minat membaca saya bukan pada buku pelajaran, tapi pada koran. Maka, nilai sekolah saya fluktuatif. Pernah sangat bagus dan pernah juga hancur berantakan.

Di depan masjid, di depan asrama dan di halaman sekolah setiap pagi saya berjuang bersama puluhan kepala lain yang saling berdesakan sekadar untuk bisa membaca koran yang dipajang di kaca. Ketahanan tubuh sangat menentukan dalam "Membaca Berjamaah". Jika tidak kuat, tubuh tergeser oleh pembaca lain yang tubuhnya lebih kekar. Saya yang waktu itu memiliki berat badan 53 kg dan tinggi 173 cm tentu begitu mudah disingkirkan oleh arus yang selalu deras di pagi hari. Maklum, tubuh saya cukup langsing, meskipun teman-teman menyebutnya kurus-kering-kerontang. Jika sudah tersingkir, saya pun bersiasat dengan membaca saat sepi, yaitu siang atau sore hari.

Pesantren tempat saya studi memiliki perpustakaan yang buka tiap hari jumat. Seusai mengaji Al-Quran dan mencuci baju, saya bergegas ke perpustakaan. Di sana saya berkenalan dengan Majalah Tempo, Panji Masyarakat, Aula, Koran Jawa Pos, Surya, dan berbagai buku lainnya. Rupanya di pesantren inilah minat membaca mulai tumbuh.

Kiai dan guru-guru di pesantren juga menjadi faktor yang membuat saya memiliki minat untuk membaca. Setiap pagi saya mengaji Al-Quran di Ndalem Kiai Imam Haromain. Ndalem beliau dipenuhi buku-buku dan kitab. Meski hanya melihat saja, saya merasakan energi yang besar. Ya, energi untuk memiliki buku-buku semacam itu dan membacanya suatu saat kelak.

Kiai Aziz Masyhuri adalah teladan belajar yang tiada duanya. Beredar cerita di antara para santri waktu itu bahwa beliau jika sudah belajar seperti lupa waktu. Saat mengajar pun bisa terlupa jika tidak dijemput. Beliau larut dalam kitab yang dibaca.

Guru-guru saya saat itu juga banyak yang sangat giat membaca. Salah satunya adalah Pak Romli. Teman-teman menjuluki beliau sebagai "Pak Perpus Keliling" karena selalu membawa buku dalam jumlah banyak. Beliau memang kutu buku tulen. Wawasannya sangat luas. Beliau menguasai kitab kuning sangat mendalam. Bidang eksak seperti matematika juga beliau kuasai secara mendalam. Jadi sosok beliau sungguh lengkap dan sangat menginspirasi.

Ada banyak lagi sosok penting yang tidak bisa saya sebut satu demi satu. Selama tiga tahun di pesantren, saya seperti disemai literasi oleh lingkungan. Kiai-kiai yang alim, guru-guru yang inspiratif, dan teman-teman yang kreatif menjadi faktor yang membuat saya kesengsem dengan aktivitas membaca.

Di koran Jawa Pos saat itu, budayawan Emha Ainun Nadjib sedang naik daun. Seminggu sekali kolomnya muncul di halaman depan Jawa Pos. Saya membacanya dengan cermat, meskipun tidak paham. Kolom-kolom Kiai Mbeling tersebut seperti energi tersendiri yang semakin mengokohkan minat saya untuk bisa menulis.

Belajar menulis itu ternyata tidak mudah. Sungguh tidak mudah. Berkali-kali saya belajar menulis tetapi tidak pernah berhasil. Saya tidak tahu jalan yang harus saya lalui selain pasrah dengan keadaan.

Pesantren Denanyar menjadi tempat persemaian tradisi membaca saya. Di pesantren ini pula saya mulai tahu tentang dunia menulis saat OSIS mengadakan Pelatihan Menulis. Narasumbernya adalah Yusron Aminullah dan Adil Amrullah. Kedua narasumber adalah saudara kandung budayawan Emha Ainun Nadjib. Dari beliau berdua saya mulai tahu dunia menulis.

Usai pelatihan, kami bertekad membuat majalah. Namanya LintaS. Pimrednya Sahabat Nasichun Amin dari Gresik. Di majalah ini pula saya berjuang keras menulis. Saya tidak ingat persis menulis tentang apa. Sayang sekali, dokumen pun tidak saya miliki.

Tamat dari Pesantren Denanyar saya melanjutkan studi ke IAIN Sunan Ampel Surabaya. Di kota Pahlawan inilah saya memuaskan dahaga membaca. Buku-buku begitu mudah diakses di perpustakaan. Membeli buku?  Terlalu berat. Demi keberlangsungan kuliah apa saja saya jalani, mulai dari mengajar TPQ, jualan koran hingga jualan susu keliling. Jadi tidak ada uang untuk anggaran beli buku.

Di IAIN Surabaya, keinginan bisa menulis semakin menguat. Beberapa orang kakak tingkat acap menjadi bahan perbincangan teman-teman karena artikelnya sering 'nongol' di koran. Mereka, antara lain, Masdar Hilmy (kini Rektor dan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya),  A. Rubaidi (kini dosen UIN Sunan Ampel), dan Suyanto (Redaktur senior Harian Surya). Dosen yang mengajar di kelas juga kerap menyebut nama mereka dan produktivitasnya menulis. Hal ini semakin menguatkan keinginan saya untuk bisa menulis.

Saat di Surabaya, saya tinggal di Gang VI Nomor 7 (kalau tidak salah). Ada dua kamar di kos ini. Salah satu penghuni kos adalah En Hidayat, kakak tingkat di Fakultas Tarbiyah yang aktif menulis kolom di Majalah Edukasi. Saya kerap mengintip naskah ketikan yang belum selesai. Sekali lagi, role model Cak Dayat--sapaan akrab En Hidayat--menjadi energi untuk mewujudkan mimpi bisa menulis.

Berkali-kali saya mencoba menulis artikel tetapi selalu tidak berhasil. Saya coba lagi dan belum berhasil. Saya coba lagi, bisa selesai dan saya kirim ke Harian Surya, tetapi tidak ada kabar. Berkali-kali saya kirim tetapi tetap tidak ada kabar membahagiakan.

Di tengah perjuangan yang belum ada hasilnya, sebuah fakta mengejutkan terjadi. Seorang teman sekelas dengan penuh percaya diri membagikan foto kopi artikelnya yang dimuat di Harian Surya. Rubrik ini juga yang selama ini aku tuju. Sebelum saya sukses, teman saya sudah sukses duluan. Kelak, sekitar dua tahun setelahnya, saya berhasil menembus rubrik yang sama.

Oh ya, teman tersebut kini menjadi mubaligh sangat terkenal. Namanya Dr. KH Muhammad Shodik, M. Si.

Kesuksesan Mas Shodik benar-benar membuat saya terlecut. Meskipun tertatih-tatih, saya terus berusaha menulis. Sungguh sebuah perjuangan tidak mudah.

Seiring perjalanan waktu, studi saya tidak bisa selesai di IAIN Surabaya. Saya tidak ingin menceritakan mengapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Terlalu pahit untuk diceritakan dan dikenang. Biarlah pengalaman itu menjadi bagian tidak terpisah dari perjalanan hidup saya.

Pulang kampung ke pedalaman Tulungagung setelah 'gagal' menyelesaikan studi sungguh membuat saya inferior. Saya merasa masa depan saya gelap. Beberapa aktivitas sempat saya lakoni, seperti jualan sayur ke pasar. Tetapi saya tidak memiliki mental pedagang. Aktivitas ini pun gagal hanya dalam hitungan hari.

Melihat saya tidak jelas aktivitas, Bapak meminta saya melanjutkan studi. Beliau meminta saya mengurus mutasi dari IAIN Surabaya ke IAIN Tulungagung. Saya pun mengurusi surat mutasi. Sukses.

Tapi persoalan belum selesai. Di rumah tidak uang sepeser pun. Tidak ada jalan lain selain berhutang. Jika ingat perjalanan meminjam uang untuk kelanjutan kuliah bersama Ibuk, air mata acap tak terbendung. Saya merasakan betul betapa menjadi orang tak punya sungguh menyiksa. Penolakan, dengan ucapan dan sikap, cukup sering saya saksikan. Suara-suara miring tidak jarang terdengar. Semuanya mewarnai proses studi saya.

Singkat cerita, kuliah saya terselamatkan. Saya berusaha mengejar mimpi kembali untuk meraih sarjana. Tetapi ternyata tidak mudah. Menjelang wisuda, saya ditawari menjadi TKI sebagai guru di negara tetangga oleh seorang famili. Saya ingin mengambil tawaran itu, tapi segera saya urungkan karena memang tidak ada biaya untuk membayar persyaratan.

Sekarang, saya mensyukurinya. Seandainya saya atau orang tua memiliki uang, mungkin saya tidak bisa menekuni dunia menulis seperti sekarang. Ya, setiap peristiwa ada hikmahnya.

64 komentar:

  1. Perjalanan panjang anak manusia dengan fitrah dan ikhtiarnya yang patut disyukuri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inggih Bu Kanjeng. Saya harus bersyukur atas semuanya.

      Hapus
  2. Penuh spirit dan inspirasi pak doktor... Top

    BalasHapus
  3. Wah..seperti cerita mimpi yah prof.tapi memang nyata adanya

    BalasHapus
  4. Wah ternyata penuh lika liku

    BalasHapus
  5. Sungguh mengispirasi, tiap paragraf ada pelajaran yang sungguh patut diteladani....

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah, pada bagian awal refleksi nya cocok Ning endingnya luar biasa. Sukses pak doktor

    BalasHapus
  7. Seandainya banyak uang dari dulu..apa kira-kira yang ditekuni pak?hehehe

    BalasHapus
  8. Mau nyontoh yg baik kok susah...

    Sekarang
    AKU BUKU DAN LIHAT COVERNYA

    Semoga segera opening
    AKU, MENULIS DAN BUKUKU...

    salam dukses untuk diriku

    BalasHapus
  9. Terkadang kita harus melihat orang sekitar untuk memulai. Luar biasa menginspirasi Pak Prof...

    BalasHapus
  10. Saya penggemar MPA juga pak. Dari tahun saya kelas 1 MI sampe sekarang. Dulu bapak yang berlangganan, diteruskan saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejak Bapak pensiun saya sudah tidak pernah baca lagi. Padahal itulah majalah yang berjasa menyemai spirit membaca

      Hapus
  11. Kereen pak..👍👍😁😁

    BalasHapus
  12. Sungguh luar biasa perjuangan Prof. Naim. Pendidikan yang penuh realitas akan menjadikan orang hebat.Berbeda dengan pendidikan yang serba fasilitas...

    BalasHapus
  13. Sy menangis terharu pak. Sungguh sgt menginspirasi. Perjuangan yg tdk mudah. Semua pst bisa jk ada kemauan.

    BalasHapus
  14. Keren pak Naim, sukses terus

    BalasHapus
  15. Allah,. luar biasa sanget pak. Terimkasih sampun share pengalaman bapak. sangat haru dan menginspirasi.
    alhmdlh atas segala nikmat Allah...alhmdlh sanget.

    BalasHapus
  16. Sampai nangis baca pak, tdk seorgpun yg dapat memprediksi takdir Allah di masa depan. Sekarang bapak menjadi maha guru para penulis.

    BalasHapus
  17. Setiap peristiwa ada hikmahnya. Dari kehidupan serba sederhana menjadi guru kami rendah hati dan sabar. Terimakasih ilmunya

    BalasHapus
  18. Terharu saya bacanya Pk
    Sangat menginspirasi Pk

    BalasHapus
  19. Luar biasa, Gus. Sangat memotivasi. Terima kasih telah berbagi cerita seru mengharukan!

    BalasHapus
  20. Segala sesuatu harus diperjuangkan, tidak bisa instan. From nothing to something. Sungguh luar biasa perjuangannya. Terimakasih untuk motivasi dan inspirasinya prof

    BalasHapus
  21. Perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Akhirnya membuahkan hasil. Segala sesuatu yang terjadi, ada hikmah dibaliknya. Thanks pak.

    BalasHapus
  22. wow sepenggal kisah hidup yg sangat inspiratif berjuang di tengah keterbatasan akibatnya kesuksesan menjemput

    BalasHapus
  23. Kesuksesan akan terasa manis jika diawali dengan perjuangan..

    BalasHapus
  24. ini betul-betul sebuah perjuangan...

    BalasHapus
  25. Subhanallah luar biasa Gus

    BalasHapus
  26. Proses yang sangat panjang akhirnya membuahkan kesuksesan

    BalasHapus
  27. Kisah hidup optimis, berjuang dan sukses.

    BalasHapus
  28. Perjalanan hidup yg penuh perjuangan dan berujung pada kesuksesan. Luar biasa!

    BalasHapus
  29. Berawal dari mimpi... Akan indah pd waktunya..terimakasih pak kisah yg sngt inspiratif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih berkenan mengunjungi dan membaca catatan sederhana ini

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.