Menulis Buku Itu Mudah

Januari 22, 2020

Ngainun Naim


Saya belum pernah sekalipun bertemu muka dengan M. Iqbal Dawami. Komunikasi dengan beliau saya jalin melalui facebook dan WA. Meskipun belum pernah bertemu, rasanya saya akrab dengan beliau. Semoga perasaan ini tidak salah.
M. Iqbal Dawami merupakan penulis berkarakter. Ketika saya menempuh kuliah di UIN Sunan Kalijaga pada tahun 2000-an, namanya sering saya baca di media massa. Artikel dan resensi bukunya cukup sering dimuat di berbagai media. Namanya bertengger di berbagai media massa bersama para penulis muda dari IAIN Sunan Kalijaga.
Suatu ketika saya sedang berbelanja buku di Social Agency yang letaknya di timur UIN Sunan Kalijaga. Saat di lantai dua, saya membaca sebuah buku tentang menulis. Judulnya The Miracle of Writing terbitan Leutika Yogyakarta. Nama penulisnya M. Iqbal Dawami. Saya baca buku itu diberi kata pengantar oleh Hernowo.
Jujur saya sangat kagum. Penulis ini hebat. Kata pengantarnya saja dari penulis yang terkenal dengan jargonya “Mengikat Makna”. Tentu bukunya sangat bagus.
Saya buka buku itu pelan-pelan. Saya baca bagian demi bagian. Setelah tamat saya kembalikan. Saya tidak membelinya. Maklum, uang sangat terbatas. Sebagai mahasiswa yang sudah berkeluarga, saya harus berhemat.
Lama saya tidak mengetahui penulis muda ini sampai kemudian kami berteman via facebook. Komunikasi pun berlangsung via fb dan WA. Saya membeli beberapa bukunya yang terbit. Termasuk buku terbarunya ini, Ubahlah Duniamu.
Buku ini diterbitkan oleh penerbit yang digawanginya, yaitu Maghza. Penerbit yang diambil dari nama anaknya. Penerbit ini tampaknya berkembang baik. Paling tidak itu yang saya amati dari laman facebook penulis yang kini bermukim di Pati, Jawa Tengah tersebut.
Buku Ubahlah Duniamu sudah saya khatamkan beberapa hari setelah tiba di bulan Desember 2019. Saya membacanya sedikit demi sedikit. Beberapa hal penting saya catat. Setelah menyelesaikan pembacaan buku tersebut, saya menyimpulkan bahwa menulis buku sebagaimana yang ditulis oleh M. Iqbal Dawami itu ternyata mudah. Kesimpulan ini saya peroleh setelah mencermati bagian demi bagian.

Selain itu, ada beberapa hal yang bisa saya ambil sebagai kesimpulan. Pertama, banyak penulis—khususnya penulis pemula—yang menghadapi persoalan serius saat mengawali proses menulis. Problem utamanya adalah mau menulis apa. Jika tidak ada yang ditulis, tentu tulisan tidak lahir. Cerita selesai.
Bagi pembaca sekalian yang ingin bisa menulis buku, bacalah buku ini. Tentu Anda juga bisa membaca buku-buku lain yang sejenis. Buku ini bisa menjadi eksemplar tentang menulis buku dari bahan sederhana. Konon, cara terbaik belajar adalah dengan mencontoh. Bacalah bagian demi bagian buku ini. Amati dan kemudian kembangkan sesuai dengan kondisi Anda. Jika Anda konsisten, Insyaallah Anda akan memiliki sebuah buku.
Kedua, ada kesan yang umum berkembang bahwa menulis buku itu sulit. Hanya kalangan ilmuwan saja yang bisa melakukannya. Bayangan membuat buku biasanya mengarah pada buku ilmiah yang harus mengikuti tata aturan baku yang ketat lengkap dengan daftar referensi yang kuat.
Bayangan ini tentu saja tidak salah. Meskipun demikian perlu dipahami bahwa buku itu banyak model dan jenisnya. Tidak semua buku harus semacam itu. Ada buku jenis lain yang jika kita mau berusaha mewujudkannya, tidak membutuhkan energi sebesar buku-buku ilmiah.
Buku karya M. Iqbal Dawami ini contohnya. Buku ini memuat catatan-catatan ringan tentang berbagai hal dalam kehidupan penulisnya. Ada catatan tentang bagaimana penulisnya melakukan sebuah aktivitas. Tidak banyak. Masih banyak catatan ini karena isinya hanya tiga paragraf. Ada cerita tentang bagaimana penulisnya merefleksikan isi sebuah buku. Ada juga tulisan lamunan penulisnya. Dan banyak lagi yang lainnya.
Secara tidak langsung penulis buku ini mengajarkan bahwa menulis buku itu bisa mengambil apa pun dari sisi kehidupan. Status facebook yang diolah lalu dikumpulkan juga bisa menjadi buku. Kumpulan renungan kehidupan yang diberi penjelasan tiga sampai empat paragraf juga bisa menjadi buku. Intinya apa pun bisa diolah menjadi buku.  
Ketiga, menulis secara “mencicil”. Sebuah buku tidak harus diselesaikan dengan sekali duduk. Memang bisa saja seseorang menulis secara fokus sebuah buku dalam waktu tertentu. Model menulis semacam ini memang bagus dan akan bisa membuat sebuah tulisan cepat selesai. Bagi yang memiliki waktu luang banyak, tentu model ini bisa dipilih.
Bagaimana dengan mereka yang waktunya terbatas? “Mencicil” adalah strategi menulis yang bisa dipilih. Bahan buku ditulis sedikit demi sedikit. Namun dalam praktiknya harus rutin dan konsisten. Usahakan setiap hari menulis isi buku walaupun hanya dua paragraf. Jika tidak rutin ya tetap tidak akan selesai. Dalam waktu tertentu, buku pasti selesai.
Mari kita bermain pengandaian. Jika Anda hanya memiliki waktu menulis 20 menit setiap hari dan dalam waktu ini Anda mampu menulis katakan 2-3 paragraf maka dalam 5 bulan sebuah buku sudah selesai ditulis. Sebulan berikutnya dipakai untuk mengedit tulisan. Setengah tahun persis naskah buku siap dikirim ke penerbit.
Jika ingin contoh bacalah buku M. Iqbal Dawami ini. Buku ini adalah hasil ketekunan penulisnya yang menulis sedikit demi sedikit. Kumpulan tulisan ini pun bisa menjadi buku yang menarik.
Saya berusaha meniru model menulis yang sedikit demi sedikit ini. Catatan ini juga menerapkan metode mencicil. Saya menulisnya dalam enam kali kesempatan.
Keempat, facebook adalah folder atau file untuk tulisan kita. Jadikan facebook atau jejaring sosial lainnya sebagai sarana menyimpan tulisan kita. Isilah jejaring sosial dengan tulisan yang diproyeksikan sebagai bahan buku. Pemanfaatan jejaring sosial ini lebih efektif dan bermanfaat daripada jejaring sosial dipakai sekadar untuk menampung foto-foto kita. Buku M. Iqbal Dawami ini sebagian besar berasal dari status fb beliau. Jika tidak percaya silahkan kunjungi laman beliau. Anda akan menemukan sebagian isi buku ini di sana. Tentu setelah diperbaiki dan disempurnakan.
Itulah beberapa catatan saya setelah membaca buku karya M. Iqbal Dawami ini. Buku sederhana namun sarat makna. Buku yang—menurut saya—memberikan banyak energi pencerahan. Selamat membaca, serap energinya, dan ambil pelajaran di dalamnya.

Tulungagung, 15 Januari 2020

21 komentar:

  1. Penuh makna...dan sangat inspiratif pak...

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Harus dicoba. Kumpulan tulisan di blog jika jumlahnya 25-30 bisa dikumpulkan, diberi judul, dibuatkan kata pengantar, daftar isi. Itu sudah jadi buku.

      Hapus
  3. Menulis memang harus dimulai. Jika tidak pernah menulis, untuk menentukan sulit tidaknya pun kita tidak punya dasar hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya. Jangan hanya berteori atau berpikir, tetapi segera menulis.

      Hapus
  4. Saya mengingat ungkapan Bapak Naim, bahwa menulis itu praktik. Terima kasih pencerahannya Bapak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teori penting, tetapi praktik adalah kunci untuk menghasilkan tulisan

      Hapus
  5. Insya Allah pak nanti dicari bukunya

    BalasHapus
  6. Baru mau mssuk cicilan ke tiga, terimakasih ilmunya

    BalasHapus
  7. Sangat menginspirasi Pak

    BalasHapus
  8. Mudah juga sepertinya
    Karena sy blm pengalaman jd sulit nggih pak...

    Tulisan yang selalu memotivasi
    Terima kasih pak dosen...

    BalasHapus
  9. Tulisan dari catatan yg benar benar menggelitik untuk mencoba dan membuktikannya. Trima kasih

    BalasHapus
  10. Strategi ini sy pakai waktu menyusun disertasi (menyicil tulisan) yang penting setiap hr ada yg ditulis. Ini berlanjut sampai sekarang. Semoga sll istiqamah. Thanks pak.

    BalasHapus
  11. Trimakasih inspirasinya Ustadz, siap mencari bukunya. Dan memantapkan niat menghilangkan rasa minder menulis dan memulai menulis

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.