Menulis Itu Proses Belajar

Mei 17, 2020

Ngainun Naim

Menulis itu proses belajar. Belajar dengan—ini yang terpenting—praktik menulis. Semakin sering praktik maka semakin bagus tulisannya.
Jangan pernah bermimpi bisa menulis karena sering ikut pelatihan menulis. Juga kecil kemungkinannya Anda bisa menulis karena berpartisipasi di berbagai seminar menulis secara online. Acara semacam itu penting, bahkan sangat penting. Tetapi jika hanya berhenti sebatas pengetahuan tanpa dipraktikkan tentu tidak membuat Anda bisa menulis.
Sejauh yang saya amati, musuh terbesar orang yang belajar menulis adalah aspek psikologi. Misalnya,  merasa tidak percaya diri, merasa tulisannya jelek, merasa belum bagus, dan merasa-merasa lainnya. Padahal itu hanya "perasaan". Jika itu dituruti sampai pensiun pun kita akan tetap dihinggapi oleh perasaan semacam itu.
Jika ingin sukses menulis, hilangkan perasaan itu. Menulislah. Abaikan segala jenis perasaan. Terus belajar dengan menulis.
Jika Anda menjadi anggota sebuah grup dan Anda hanya "mengintip", menjadi silent reader tulisan demi tulisan di grup, maka itu bermanfaat untuk meningkatkan semangat menulis tapi tidak akan membuat Anda bisa menulis. Menulis hanya bisa dengan terus menulis. Bukan dengan mengintip.
Ada banyak cara yang bisa dikembangkan. Salah satunya dengan membuat blog. Tapi jangan sekadar membuat. Isilah secara rutin. Syukur-syukur setiap hari.
Bagi yang belum terbiasa tentu akan berat melakukannya. Tetapi ketika diperjuangkan, tidak ada yang berat. Semuanya biasa saja.
Ketika Anda terus saja menulis di blog nanti Anda akan mendapatkan banyak manfaat. Istilahnya guru blogger Wijaya Kusumah, Anda akan menemukan keajaiban. Apa saja bentuknya? Ah, itu belum penting. Menulis saja terus secara konsisten.
Mereka yang sukses menulis bukan yang punya kecerdasan super. Bukan pula karena keberuntungan tapi mereka yang bekerja keras dengan memaksa diri untuk menulis.
Jalani prosesnya. Teruslah menulis. Salam.
Parakan Trenggalek, 17 Mei 2020: [15.25-15.40].

30 komentar:

  1. Trimakasih prof.. Dan mohon ijin share

    BalasHapus
  2. Semakin banyak belajar menulis maka semakin haus, bila tdk nulis terasa ada yg hilang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menulis memang sebaiknya dilakukan secara rutin.

      Hapus
  3. Drop prof. Pas mengisi foto yang saya kira pas dg tulisan saya. Ternyata orangnya TDK berkenan dan sampe mengatakan tidak ikhlas...

    Ketakutan membuat semangat juga drop

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo semangat lagi. Menulis itu banyak lho godaannya. Selalu bangkit yang akan membuat kita sukses sebagai penulis.

      Hapus
  4. Ya benar. 15 buku pribadiku terwujud karena saya paksa nulus. Rajin menulis
    . Bahkan ada satu judul buku kumpulan puisi yg sengaja saya tulis berdasarkan foto foto ketika perjalanan wisata ke Bandung. Dengan judul Dari Tulungagung Melenggang ke Bandung. Setiap ada yg menarik saya foto. Agar tema foto tidak lupa, langsung saya upload di medsos dalam bentuk puisi. Sampai di rumah puisi saya benahi dengan bumbu imaji. Menulis harus dilatih dan dipaksa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur suwun Pak Budi. Menulis memang harus dipaksa. Semoga Pak Budi sehat selalu.

      Hapus
  5. Trimakasih bapak selalu memberikan motivasi untuk menulis 🙏🙏

    BalasHapus
  6. Mantap Pak ... jurus ampuh menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jurus saja. Praktiknya terserah masing-masing he he he.

      Hapus
  7. Dan saya masih termasuk silent reader hehe...

    BalasHapus
  8. InsyaAllah akan berusaha.... Baru menulis 3x...masih belajar...smg sll semangat

    BalasHapus
  9. Semoga saya juga bisa konsisten menulis. Aamiin

    BalasHapus
  10. Trims..sangat menginspirasi..����

    BalasHapus
  11. Sederhana, namun cukup makjleb.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.