Membaca dan Kemajuan

Juni 15, 2020
Ngainun Naim


Saya menyukai catatan yang dibuat oleh Weedy Koshino, seorang warga Indonesia yang tinggal di Jepang. Bukunya, Unbelievable Japan! (2016) memberikan banyak informasi menarik tentang perilaku positif warga Jepang. Saya kira kita bisa belajar banyak dari buku Weedy Koshino dalam kerangka transformasi menuju kehidupan yang lebih bermutu.
Anda ingin membaca buku Weedy Koshino secara gratis? Bisa. Gampang. Modalnya cuma hp plus paket data.
Hanya itu? Tentu tidak. Segera Anda meluncur ke Playstore. Cari iPusnas. Download. Isi seluruh bagian yang harus diisi. Tidak usah mengisi bagian yang memang tidak usah diisi. Kayak kurang kerjaan saja.
Terus? Ya tinggal ketik nama Weedy Koshino. Nanti Anda akan menemukan beberapa buku karyanya. Terus dipinjam secara online. Sudah, gitu saja.
Begitu sudah masuk diaplikasi, segera dibaca. Hanya beberapa hari saja waktu yang kita miliki. Karena itu harus dimanfaatkan secara baik.  Saat waktu habis, buku akan kembali secara otomatis ke rak Perpusnas.
Baik, saya kembali ke Weedy Koshino. Satu hal penting yang saya kira menarik dari paparan Koshino adalah tentang tradisi membaca. Negara Matahari Terbit tersebut dikenal memiliki warga yang gila membaca. Tidak hanya suka, tapi levelnya gila. Bukan hanya kutu buku tetapi sudah menjadi predator buku. Sudah menjadi pembaca buku kelas berat.
Membaca memang telah menjadi budaya yang mengakar kuat. Ke manapun warga Jepang pergi, bahan bacaan selalu tersedia. Mereka begitu tekun membaca. Melihat orang membaca di kereta merupakan pemandangan sehari-hari. Orang asyik membaca sambil menunggu waktu membayar di kasir supermaket itu bukan hal istimewa. Intinya, membaca adalah sisi Jepang yang penting diteladani.
Membaca dan terus membaca ketika memiliki kesempatan merupakan investasi intelektual yang sungguh dahsyat. Kemajuan Jepang saat ini ditopang oleh--salah satunya--budaya membaca yang mengakar kuat.
Masyarakat yang rajin membaca secara otomatis akan menjadi masyarakat yang bermutu. Asupan bacaan setiap hari membuat pengetahuannya luas, inovasinya berkembang, perspektifnya lebih komprehensif, dan memiliki potensi maju yang besar. Jepang sudah membuktikannya.
Bagaimana dengan kita? Kita tidak harus sama persis dengan Jepang. Kita jelas beda. Tapi soal budaya membaca, itu penting menjadi inspirasi. Mari kita Kampanyekan budaya membaca.
Kita ini belum maju karena kurang rajin membaca buku. Kita rajinnya membaca postingan receh tak bermutu. Jadinya kita ini gampang marah, gampang menghujat, dsn gampang-gampang negatif lainnya.
Jika kita ingin menjadi masyarakat maju maka membangun budaya membaca menjadi sebuah keharusan. Jangan pernah bermimpi bisa maju dalam makna yang sesungguhnya jika membaca masih dianggap sebagai barang mewah.
Jangan lagi beralasan buku sulit didapat. Buku sekarang ini melimpah ruah. Bica pinjam via iperpusnas. Bisa beli secara online. Pokoknya akses buku sekarang ini luas tidak terbatas. Tinggal Anda mau berusaha mencarinya atau tidak.

44 komentar:

  1. buku tidak sulit didapat, kemauan membaca buku yang sulit menguat...

    BalasHapus
  2. Sae pak ...��

    BalasHapus
  3. Saya melihat secara langsung penduduk jepang dan mereka sangat giat dalam membaca. Beda dgn indonesia yg blm membuat budaya baca memjadi budaya bangsa

    BalasHapus
  4. Betul banget pak..mari kampanyekan budaya membaca

    BalasHapus
  5. Membaca memberikan inspirasi bagi kita untuk melakukan perjalanan ke mana saja

    BalasHapus
  6. Betul sekali Ustadz, membaca merupakan keharusan bagi orang yang ingin maju. Budaya baca masyarakat Indonesia masih sangat. Banyak yg lebih suka budaya nongkrong yg kurang manfaat & menyia-nyiakan waktu daripada membaca. Mantaab Ustadz ulasannya semoga bisa menjadi pembuka hati siapa saja untuk gemar membaca.

    BalasHapus
  7. Mantap...pak prof. Terima kasih.

    BalasHapus
  8. membaca yang berawal dari terpaksa. Boleh nggih pak dosen... biar jadi terbiasa

    BalasHapus
  9. Kita yang punya ayat membaca namun Jepang yang melakukan

    BalasHapus
  10. Mencerahkan. Terima kasih, Pak

    BalasHapus
  11. Kalau kita membaca di tempat umum malah dianggap aneh. Eeh kalau membaca di ruang guru, ada yang komen "wong khok sinau terus, mbokyo menikmati hidup, ojo digawe spaneng moco buku terus"

    BalasHapus
  12. Mudah2an spirit literasi bapak, membuat banyak perubahan pada masyarakat.

    BalasHapus
  13. Menarik, pak...
    Terimakasih pencerahannya, semoga saya bisa meniru literasi bapak,dan bisa membuat perubahan untuk diri sendiri dan lingkungan saya......

    BalasHapus
  14. Berawal dari peristiwa pengeboman hirosima dan nagasaki mungkin Pak Naim mereka jadi predator membaca,,, Untuk Indonesia apa harus nunggu dibom juga ya Pak,,,,, maafkan sy yang kurang sopan sy suka bercanda Pak ( bu sri)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya jangan di bom Bu. Eman-eman. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan.

      Hapus
  15. Siap perlahan lahan. Terima kasih selalu menginspirasi

    BalasHapus
  16. Masya allah.. keren pan.. sungguh menginspirasi.. Oh iya terimakasih info pinjam buku di perpusnas.. hehe (saya baru tauu)

    BalasHapus
  17. Siap literasi Prof...jadi dapat ilmu pinjam buku online.
    Bila berkenan mereview tugas resume tentang paparan Prof Ngainun di http://maseko1275.blogspot.com/2020/07/kunci-produktif-menulis.html

    BalasHapus
  18. Terima kasih ilmunya Bp Prof Ngainun
    Na'im....ePusnas mau dicoba dan search
    Saya sangat setuju budaya baca harus kita bangun sedari dini

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.