Belajar (Lagi) tentang Menulis Artikel Jurnal

Juli 17, 2020

Ngainun Naim


Menulis itu membutuhkan proses yang panjang. Terus belajar, praktik, dan belajar lagi. Begitu seterusnya. Tidak ada kata berhenti. Begitu berhenti, kita tidak tumbuh menjadi manusia yang semakin berkualitas.
Era pandemi karena Covid-19 memberikan banyak hikmah. Salah satunya adalah membanjirnya aneka webinar. Tentu tidak mungkin semua diikuti. Kalau saya cukup selektif. Saya hanya akan mengikuti webinar yang memiliki relevansi dengan minat dan kerja saya.
Jika semua diikuti ya jelas tidak mungkin. Waktu kita bisa habis. Kuota internet bisa jebol. Memang banyak sertifikat yang bisa diperoleh. Tapi untuk apa jika sekadar mendapatkan sertifikat semata?
Salah satu webinar yang biasanya saya ikuti adalah tentang menulis. Jujur, saya mendapatkan banyak ilmu dari webinar semacam ini. Misalnya, acara NGOPI yang diadakan oleh LPPM IAIN Metro pada hari Senin, 13 Juli 2020 merupakan acara yang saya ikuti dengan penuh semangat. Acara dengan tema, “Sukses Menulis Artikel Ilmiah dan Terbit di Jurnal Bereputasi” menghadirkan dua narasumber muda berbakat, yaitu Imam Mustofa, M.S.I dari IAIN Metro Lampung dan Busro, M.Ag dari UIN Bandung.
Ada satu ungkapan menarik dari Mas Busro—pengelola Jurnal Wawasan UIN Sunan Gunung Djati Bandung—bahwa publikasi itu tidak sulit. Jika sudah ada naskah tinggal submit ke jurnal yang dituju. Justru yang susah adalah melakukan penelitian dan mengolahnya menjadi artikel yang baik. Artikel yang asal-asalan, meskipun sudah sampai di meja editor dan reviewer, akan ditolak.
Artikel yang baik ada standarnya. Seorang penulis artikel jurnal harus memahami jurnal yang dituju. Gaya selingkung jurnal mutlak untuk diikuti. Membaca artikel demi artikel di jurnal yang akan dituju bermanfaat dalam mengolah artikel yang ditulis. Peluang untuk dimuat sesungguhnya cukup terbuka karena setiap jurnal pasti membutuhkan artikel. Sepanjang memenuhi semua kriteria yang telah ditentukan, pemuatan artikel di jurnal hanya persoalan waktu.
Modal penting untuk menulis artikel jurnal adalah membaca sebanyak-banyaknya. Semakin banyak membaca semakin bagus. Pembacaan secara serius menjadi modal penting, termasuk dalam menghasilkan kebaruan (novelty). Menurut Imam Mustofa dari IAIN Metro Lampung, kebaruan bisa dalam bentuk substansi, metodologi, atau pendekatan.
Proses menulis itu sendiri tidak selalu mudah. Imam Mustofa menyarankan agar kita tidak terlalu ideal dalam menulis. Orientasi yang ideal akan berimplikasi pada tidak selesainya  tulisan. Lebih baik menulis berangkat dari orientasi sederhana lalu disempurnakan. Secara praktis Imam Mustofa menyarankan empat hal; (1) mengetahui latar belakang materi yang akan dikaji; (2) membaca secara luas; (3) mempertanyakan tentang status atau keadaan pemahaman ketika itu; dan (4) mengetahui tentang kesenjangan dalam pengetahuan.
Artikel jurnal mensyaratkan topik yang hangat untuk ditulis. Ada banyak cara untuk menemukan topik yang hangat, antara lain; (1) mencari petunjuk di mesin pencari; (2) menemukan kontroversi dari topik yang ditulis; (3) temuan yang tidak dapat dijelaskan; (4) diskusi dengan ilmuwan yang lain; (5) pertemuan ilmiah, baik nasional ataupun internasional.
Sebagai seorang penulis artikel, memilih artikel terbaik untuk dijadikan sebagai “model” merupakan salah satu cara yang bisa dipilih. Pelajari, amati, dan kembangkan sesuai dengan kemampuan. “Perjuangan menulis itu ada di 10 menit pertama”, kata Imam Mustofa. Sepanjang memiliki waktu dan semangat, menulis artikel jurnal akan mampu untuk diselesaikan.

Tulungagung, 17 Juli 2020

34 komentar:

  1. Alhamdulillah dapat asupan baru. Banyak strategi membuat artikel berkualitas, tapi cara Pak Yai Naim yang mungkin sesauai untuk saya

    BalasHapus
  2. Tambah wawasan lagi...matursuwun prof

    BalasHapus
  3. Sebagai seorang penulis artikel, memilih artikel terbaik untuk dijadikan sebagai “model” merupakan salah satu cara yang bisa dipilih. Pelajari, amati, dan kembangkan sesuai dengan kemampuan. Super sekali.

    BalasHapus
  4. Asupan gizi di Jumat berkah...

    BalasHapus
  5. Mestinya menulis artikel, bagi dosen biasa saja. Karena profesinya ya memang penulis. Tapi kok tidak sedikit yg merasa sulit ya, termasuk saya.

    BalasHapus
  6. 10 menit kritis pertama untuk menulis artikel. Terimakasih prof tambahan rumusnya

    BalasHapus
  7. Iya..bener. kuncinya mau meneliti dan melaporkannya.

    BalasHapus
  8. Pak Dosen saja masih sulit menulis artikel...apalagi saya, ha ha...swmoga selalu punya waktu 10 menit pertama, munulis saja, yg sederhana.

    BalasHapus
  9. Informatif sekali dan sangat memotivasi. Terima kasih Bapak.

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah... Wawasan baru. ..

    BalasHapus
  11. Terima kasih Bapak. Saya juga ingin sekali menulis di jurnal

    BalasHapus
  12. Keren bapak. Terimakasih ilmunya. 10 menit pertama biasanya idenya menggila, selebihnya melempem. Kalau saya baru di awal saja sudah ambyar. ๐Ÿ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

      Hapus
  13. Terima kasih share ilmunya Bapak, Barokallah

    BalasHapus
  14. Alhamdulillah..inspiratif

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.