Membaca, Budaya, dan Transformasi

September 27, 2020

 

Dr. Ngainun Naim

 


Membaca itu penting artinya bagi kemajuan hidup, baik pribadi maupun masyarakat. Mereka yang mau membaca secara rutin akan mengalami transformasi dalam kehidupannya. Transformasi itu bisa berupa peningkatan pengetahuan, sikap, dan juga keterampilan.

Pentingnya membaca sesungguhnya sudah menjadi pengetahuan umum. Rasanya sangat jarang—bahkan mungkin tidak ada—orang yang berpendapat bahwa membaca itu tidak ada manfaatnya, bahkan merugikan. Persoalannya, pengetahuan ini berhenti sebatas sebagai pengetahuan dan belum beranjak menjadi kesadaran.

Jika pengetahuan sudah naik level menjadi kesadaran maka ada efeknya yaitu perbuatan. Maknanya, kesadaran membaca bukan sekadar retorika tetapi bergerak menjadi budaya. Membaca telah menjadi aktivitas hidup sehari-hari.

Aktivitas harian bisa jadi berjalan padat merayap. Memang ciri manusia sekarang ini adalah padatnya jadwal kegiatan. Meskipun demikian ketika membaca telah menjadi budaya, selalu saja ada waktu untuk membaca. Setiap kesempatan selalu dimanfaatkan untuk menelusuri deretan kata demi kata.

Jalaludin Rakhmat (2007: 269) menjelaskan bahwa rajin membaca menguntungkan otak. Membaca yang dilakukan secara rutin memberikan manfaat jangka panjang yang kadang di luar dugaan. Hal ini disebabkan karena membaca mengharuskan imajinasi dan pikiran terlibat secara aktif. Membaca sangat merangsang kedua belahan otak dan juga sistem limbik.

Pendapat Jalaluddin Rakhmat ini menemukan relevansinya pada seorang penulis yang sudah cukup tua. Namanya Howard Fast. Meskipun bukan penulis terkenal, ia terus menulis. Sehari tanpa menulis baginya merupakan sebuah kehilangan. Tidak ada waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk menulis. Padahal umurnya sudah di atas 80 tahun. Ia menjelaskan bahwa minat besar yang membuatnya mampu terus menulis sepanjang waktu.

Bagaimana Fast bisa sedemikian produktif? Salah satunya karena ia memiliki budaya membaca yang sangat kuat. Membaca mampu membuat seseorang keluar dari tempurung pengetahuannya yang kerdil. Lewat membaca, seseorang mampu menjelajah selaksa wilayah luas tak bertepi. Ada banyak hal luar biasa yang bisa diraih dari menjelajahi dunia aksara ini.

Namun demikian, tidak setiap aktivitas membaca akan memiliki makna yang dahsyat sehingga mampu menggerakkan, memberdayakan, apalagi mampu merubah jalan hidup seseorang. Dibutuhkan berbagai prasyarat dan kondisi yang mendukung agar kegiatan membaca mampu menjadikan seseorang “berubah” menjadi “manusia baru” yang tercerahkan.

Membaca akan memiliki makna yang cukup penting ketika pembacanya mampu menangkap makna, baik yang tersurat maupun tersirat, dari teks tertulis yang dibacanya. Teks semacam ini begitu menukik hingga alam bawah sadar si pembaca. Bagi orang lain mungkin teks itu tidak istimewa, tapi bagi si pembaca justru memiliki makna yang luar biasa.

Saya sering mendengar kawan yang cerita tentang membaca yang seolah tanpa makna. Membaca sampai capek tapi tidak ada yang masuk di otak. Membaca semacam ini adalah jenis membaca yang tidak mampu menangkap makna dan fungsinya yang substansial.

Membaca dalam konteks yang semacam ini bukanlah sebuah kegiatan yang akan mampu memperkaya informasi, memberdayakan, apalagi mengubah jalan hidup seseorang.

Membaca merupakan salah satu bentuk belajar. Belajar akan membuat kita terus tumbuh dan berkembang. Hal ini disebabkan karena membaca yang efektif dapat menjadi titik pijak dalam transformasi diri. Jadi membaca itu adalah sarana untuk berubah. Ya, berubah menuju kondisi yang lebih baik.

Saya tetiba teringat Almarhum Pak Hernowo. Beliau seorang pegiat literasi hingga ajal menjemput. Beberapa kali kami bertemu di forum literasi. Bahkan salah satu buku saya diberi Kata Pengantar oleh beliau. Pengalaman personalnya membuktikan bahwa membaca membawa efek transformasi diri yang sangat dahsyat. Kegiatan membaca membuatnya bisa menjadi seorang penulis, editor, pembicara, dosen, dan berbagai aktivitas yang lainnya. Wajar jika Hernowo berkesimpulan bahwa membaca menjadi media yang efektif untuk menjadikan berpikir dalam bentuk yang terbaik. Membaca membuat kita berusaha bersungguh-sungguh untuk memahami teks (Hernowo, 2008).

Pak Hernowo menulis bahwa salah satu fungsi buku adalah menggerakkan pikiran. Fungsi semacam ini, dalam tafsiran Hernowo, dapat diartikan secara amat luas. Pertama, sebuah buku baru akan berfungsi dan secara efektif menggerakkan pikiran kita bila metode yang kita gunakan dalam membaca buku adalah membaca secara kritis atau melakukan secara amat ketat proses penghimpunan makna. Jadi tidak asal membaca.

Kedua, sebuah buku baru akan memberikan manfaat yang besar bila buku itu disusun secara baik, yaitu memenuhi kaidah-kaidah penalaran dan pendiksian.

Ketiga, fungsi menggerakkan pikiran sebuah buku akan amat bermakna bila dirasakan oleh si pembaca buku. Misalnya, si pembaca buku lalu menyinergikan gagasan si penulis yang berhasil diserapnya dengan gagasan yang sebelumnya telah tertanam di benaknya.

Dari proses sinergi ini akan muncul suatu gagasan baru yang sangat mungkin lebih segar dan berbeda secara signifikan dengan gagasan si penulis ataupun si pembaca. Hal ketiga inilah yang kemudian akan melahirkan kebaruan-kebaruan dan kreativitas-kreativitas dalam bentuknya yang menggairahkan yang pada gilirannya akan menumbuhkan semangat untuk melakukan perbaikan-perbaikan (inovasi).

Usia tidak menjadi halangan. Ketika membaca telah menjadi budaya maka usia berapa pun akan tetap membaca. Latar belakang apa pun juga tidak menghalangi untuk terus membaca. Tidak ada kata terlambat untuk mencintai buku dan mentradisikan membaca. Moses Rosenkranz, penyair kenamaan Jerman, mulai tertarik membaca buku dan menulis syair di usia 52 tahun. Analisis keuangan Indonesia, Lin Che Wei, kecintaannya pada buku dan membaca tumbuh setelah ia menamatkan sekolah pascasarjana di Singapura. Namun tidak sedikit yang gila buku sejak usia dini, seperti Ajip Rosidi, Franz Magnis-Suseno, Azyumardi Azra, dan sederet nama lainnya (Hisyam, 2019).

Aspek yang penting adalah bagaimana membuat membaca sebagai budaya. Kerja-kerja serius, sebagaimana diutarakan para penulis buku ini, harus diapresiasi. Inilah investasi jangka panjang yang sangat strategis. Usaha para penulis buku ini memiliki kontribus penting bagi kemajuan kehidupan bangsa Indonesia.

 

Bahan Bacaan

 

Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas, Belajar Berbasiskan Otak, Cet. VI, Bandung: MLC, 2007.

Hernowo, Membacalah Agar Dirimu Mulia, Pesan dari Langit, Bandung: MLC, 2008.

Mohamad Ali Hisyam, Membaca Buku di Atas Perahu, Esai-Esai Refleksi Seputar Jagad Literasi, Pati, Maghza, 2019.

 

 

 

Dr. Ngainun Naim, Dosen dan Ketua LP2M IAIN Tulungagung. Aktif menulis dan melakukan penelitian. Beberapa bukunya yang bertema literasi adalah Proses Kreatif Penulisan Akademik (2017), The Power of Writing (2015), Spirit Literasi: Membaca, Menulis dan Transformasi Diri (2019) dan Literasi dari Brunei Darussalam (2020). Penulis bisa dihubungi di nomor WA: 081311124546

32 komentar:

  1. Usia hanya hitungan angka-angka. Semangat tidak mengenal tua

    BalasHapus
  2. Jadikan membaca sebagai budaya. Thanks pak.

    BalasHapus
  3. Membaca adalah pelita kehidupan. Mantap pak

    BalasHapus
  4. Bergizi sekali. Dijamin, kalau mengikuti arahan tulisan ini, membaca menjadi suka, menulis menjadi mudah👍👍👍

    BalasHapus
  5. Saya kenal salah satu ustadzah dan beliau mengenalkan buku kepada anak-anak pada usia dini

    BalasHapus
  6. Membaca, membaca, dan terus membaca.

    BalasHapus
  7. Oleh Karena itu Hal pertama yang diperintahkan Allah SWT adalah membaca

    BalasHapus
  8. Iqro' kitaabak kafaa binafsik, perintah f Alqur'an,
    Artikel ini sangat memotivasi untuk membaca n menulois

    BalasHapus
  9. Membudayakan membaca
    Inspiratif bapak Naim

    BalasHapus
  10. selalu menginspirasi banyak org n menyemangati utk terus membaca n menulis, terima kasih p Naim

    BalasHapus
  11. Terima kasih pak Dosen dan.pak Ustad pencerahamamnya. Jadikan Membaca sbg kebutuhan utk perbaiakan diri dan menulislah utk berbagi. Sgt bermanfaat bg saya

    BalasHapus
  12. Terima Pak Doktor Naim, sangat berbobot, pejuang bangsa dalam membaca

    BalasHapus
  13. Terimakasih bapak. Selalu menyemangati

    BalasHapus
  14. Membaca, membaca dan terus membaca. Ciri seorang pembelajar sejati.
    Terimakasih pak...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.