Berkah Menulis

Oktober 01, 2020

 Ngainun Naim

 

Salah satu bab buku yang aku tulis, Menipu Setan, Kita Waras di Zaman Edan (2015)

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika hidupku harus bergelut dengan dunia kata. Membaca dan menulis telah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupanku sekarang. Semua ini tidak terjadi begitu saja. Ada banyak hal yang saling berkait-kelindan.

Aku sungguh sangat bersyukur memiliki minat di dunia literasi ini. Dunia yang sungguh unik. Dunia yang diminati banyak orang tetapi tidak semuanya mampu menjalaninya. Literasi diminati tetapi tidak semuanya mau dan mampu menekuninya.

Jika ditanya tentang apa hikmah yang aku peroleh dari menekuni dunia literasi maka jawabannya bisa diringkas menjadi satu kata, yaitu berkah. Ya, aku merasakan ada begitu banyak berkah yang aku peroleh. Aku bisa menulis buku. Setiap tahun selalu saja ada bukuku yang terbit. Buku antologi nyaris setiap bulan terbit. Belum lagi kata pengantar permintaan dari kenalan. Kenalan itu bukan berarti sudah pernah bertemu muka. Belum tentu. Beberapa di antaranya hanya kenal lewat jejaring sosial.

Dunia literasi membuatku memiliki banyak sahabat. Sahabat nyata dan sahabat maya. Ada begitu banyak grup yang aku menjadi anggotanya. Grup demi grup literasi ini—sedikit atau banyak—memiliki pengaruh terhadap dunia literasi yang aku tekuni.

Aku merasakan bahwa dunia literasi telah mempengaruhi jalan hidupku sampai sekarang ini. Selain dua berkah yang aku tulis di atas, ada banyak lagi berkah yang aku peroleh. Sungguh aku sangat bersyukur.

Tetiba aku teringat sebuah kejadian di awal tahun 2000. Seorang sahabat karib menghubungiku. Ia seorang pemuda multitalenta. Sebuah group shalawat yang ia dirikan baru rekaman. Nama groupnya Abdi Kinanti.

Group ini sempat cukup terkenal pada tahun 2000-an. Laris diundang ke berbagai kota. Sempat pula menghasilkan album. Namun Allah memanggil sahabat karib ini di usianya yang masih sangat muda, 30 tahun.

Tentu, aku dan banyak sahabat cukup terkejut dengan kepergiannya yang sangat mendadak. Sahabat baik ini meninggalkan kenangan tak terlupakan, termasuk melambungkan mimpiku untuk menulis buku.

Saat ia menghubungiku, ia bercerita bahwa ada orang yang siap membantu jika ingin menulis dan menerbitkan buku. Ia memilihku karena—selain akrab—juga berdasarkan pertimbangan kalau aku bisa membuat buku. Beberapa tulisanku di koran dijadikan sebagai pertimbangan.

Aku yang dipercaya bisa membuat buku tentu saja berbunga-bunga. Padahal kala itu belum ada satu pun buku yang kutulis. Sahabat karib itu memberi sebuah buku yang cukup menarik. Judulnya Tuhan Bukan Hanya Milik Orang Dewasa.

Buku itu masih ada sampai sekarang. Memang menulis buku baru berhasil kulakukan jauh hari kemudian, bertahun-tahun kemudian, tetapi mimpi yang ditawarkannya menjadi penanda penting yang tidak kulupakan. Ingatanku kembali tertuju ke sahabatku—Samsul Hadi El-Muhyidin—yang telah lama kembali ke haribaan-Nya. Al-Fatihah.

 

Trenggalek, 1 Oktober 2020

14 komentar:

  1. Alhamdulillah Pak Doktor Naim, keberkahan ini semoga menular pada saya ya pak. Karena saya yang komen pertama.

    BalasHapus
  2. Saya selalu mencoba untuk mengikuti kedisiplinan Prof. Naim dalam menulis setiap hari

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah.. Semoga keberkahan juga sy dapatkan. Meski hobi menulis, baru sekarang mendapat pencerahan untuk menerbitkan buku. Kemarin-kemarin tulisan itu entah kemana..sekarang mencoba untuk mengumpulkan yang berserak untuk dibukukan.Terima kasih Pak, selalu ada yang bisa saya petik pada setiap postingan Bapak.

    BalasHapus
  4. Kebaikan yang akan terus berkembang, membawa berkah bagi banyak orang

    BalasHapus
  5. Subhanallah... Saya belum bisa konsisten tuk selalu menulis... Semoga keberkahan di miliki setiap insan..amin😊

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.