Komitmen Menulis

Oktober 03, 2020

Komitmen Menulis

Ngainun Naim



 

 

Saya memiliki seorang kawan yang nyaris setiap bulan ada saja karyanya yang terbit. Kadang berbentuk antologi, kadang buku mandiri. Sungguh sangat produktif.

Saya tidak tahu persis bagaimana proses kreatifnya sampai suatu saat ia menulisnya di Facebook. Ternyata kunci produktivitasnya adalah komitmen. Ya, ia komitmen untuk menulis setiap hari.

Sesibuk apapun ia akan selalu tetap berusaha menulis meskipun hanya beberapa paragraf. Jika waktunya luang, sehari ia bisa menulis berlembar-lembar. Namun jika tidak memilikinya, ia berusaha menulis walaupun hanya tiga paragraf.

Apa yang ditulis? Bisa naskah buku. Ia biasanya memiliki kerangka untuk sebuah buku. Nah, saat ada kesempatan, ia mengisi bagian demi bagian dari kerangka tersebut.

Bisa juga ia menulis bebas. Menulis apa saja yang ada di pikirannya. Tulisan demi tulisan bebas ini kemudian ditata, diolah, dan dibuat menjadi sebuah buku.

Apakah ia memiliki alat tulis canggih? Ternyata tidak. Ia memang pernah memiliki laptop tapi sekarang rusak. Meskipun demikian ia tidak patah semangat. Ia menulis di handphone atau di buku tulis.

Coba bayangkan perjuangannya. Menulis di handphone itu tidak mudah. Hurufnya kecil. Jari cepat capek. Tapi karena komitmen, ia tidak peduli. Lewat handphone sederhana yang dimiliki, buku demi buku terbit.

Menulis di buku tulis juga bukan hal mudah. Bagi generasi milenial, saya hampir yakin terlalu berat menulis di buku tulis. Itu kerja dua kali. Selesai menulis tangan baru dipindah ke komputer. Tapi kawan saya itu tetap saja menulis. Padahal ia masih muda. Masih generasi milenial. Saat ada waktu ia akan pergi ke rental untuk mengetik naskah tulisan tangannya. Begitulah perjuangannya.

Saya jadi malu. Semestinya saya bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan menghasilkan karya secara produktif. Saya memiliki kesempatan dan sarana yang memungkinkan untuk produktif menulis, namun belum memanfaatkannya secara baik. Kisah kawan saya tersebut mendedahkan pelajaran yang sangat berharga.

Komitmen itu kunci. Terlalu banyak alasan yang bisa kita buat untuk tidak menulis. Tapi karena komitmen, alasan itu bisa terkalahkan.

Terus menulis memang bukan hal mudah. Godaannya ganda; internal dan eksternal. Godaan internal sangat kuat untuk mencegah kita tidak menulis. Jika kawan-kawan anggota grup WA kepenulisan yang tidak menulis diminta bercerita, saya sangat yakin mereka memiliki jawaban yang panjang berderet. Tapi alasan itu sesungguhnya tetap tidak akan mendorong untuk menulis.

Hanya ada satu cara, bangun komitmen dan menulis. Apa manfaatnya? Ah, lupakan itu. Nulis saja terus setiap hari. Manfaat tidak harus datang hari ini. Menulis itu kerja jangka panjang. Begitu juga manfaatnya.

Memang musuh terberat adalah diri sendiri. Jika tidak mampu mengalahkannya, sepertinya menulis memang belum akan menjadi budaya dalam diri. Selalu saja ada alasan untuk tidak menulis.

Godaan eksternal tidak kalah beratnya. Pernah seorang penulis pemula ciut nyali karena tulisannya dikritik tajam oleh seniornya. Sejak itu ia berhenti menulis. Mentalnya jatuh. Ia tidak lagi memiliki nyali untuk menulis.

Ketakutan adalah persoalan psikologis besar yang membuat orang tidak segera menulis. Jika hambatan ini tidak mampu diatasi maka menulis akan tetap menjadi persoalan.

Trenggalek, 2 Oktober 2020

 

18 komentar:

  1. Prof saja malu. Apalagi saya, malu semalu-malunya🥺. Terimakasih untuk nutrisi semangat menulisnya prof.

    BalasHapus
  2. Terima kasih inspirasinya pak Dr. Ngainun Naim 👍👍🙏

    BalasHapus
  3. Bapak, saya mau bertanya... Jika kepada anak2 di beri kebiasaan menulis sejak dini. Karakter apa yang bisa muncul dari anak2 itu sendiri? Terimakasih 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu karakter positif. Soal bentuknya tidak bisa digeneralisasi

      Hapus
  4. Memang levelnya Pak Doktor Naim, adalah malu tidak menulis. Yang ditulis terakhir itu takut menulis

    BalasHapus
  5. Kunci untuk terus menulis adalah komitmen. Sesibuk apapun ketika komitmen ada, pasti disempatkan untuk menulis. Terimakasih Bpk Doktor Naim. Selalu memotivasi saya untuk tetap berkomitmen untuk menulis...

    BalasHapus
  6. Malu tidak menulis. Thanks pak, atas motivasinya.

    BalasHapus
  7. Menjaga komitmen untuk menulis setiap hari...bukan hal mudah. Kalau bisa menjalaninya.. Sesibuk apapun tetap meluangkan untuk menulis, sungguh tidak merugi waktu.

    BalasHapus
  8. Luar biasa asupan gizinya Prof...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.