Literasi dan Budaya Produktif

April 27, 2021

 


 

 Oleh Ngainun Naim

 

Semangat menulis berbagai kalangan belakangan meningkat tajam. Pandemi rupanya memberikan berkah tersendiri. Pembatasan aktivitas sosial memunculkan kreativitas dalam beraneka bentuk. Salah satunya adalah menjamurnya kelas-kelas menulis. Ada yang via Zoom, Google Meet, WA Grup, Telegram, dan lewat berbagai media lainnya.

 

Sejauh yang saya amati, peserta berbagai kegiatan menulis itu cukup banyak. Banyak penulis baru bermunculan. Mereka menawarkan karya yang menarik.

 

Tentu saja fenomena ini penting untuk disyukuri. Semakin banyaknya orang yang ingin menulis merupakan harapan. Ya, harapan bagi kemajuan bangsa ini ke depan. Kunci kemajuan di negara mana pun adalah terbangunnya budaya literasi.

 

Budaya literasi berupa budaya membaca dan menulis sesungguhnya merupakan budaya produktif. Disebut demikian karena seseorang yang membaca berarti terus belajar, sedangkan menulis sesungguhnya adalah produksi dan reproduksi dari hasil bacaan. Perpaduan membaca dan menulis yang apik adalah formula yang produktif untuk menghasilkan manusia-manusia yang secara otomatis berkualitas.

 

Mungkin perspektif saya ini subjektif. Tapi mari kita bermain argumentasi sederhana saja. Membaca itu tidak mudah. Terlihat sederhana tetapi hanya sedikit masyarakat kita yang mau dan membaca sebagai tradisi. Tradisi membaca kita masih jauh dari harapan. Orang yang mau membaca berarti ceruk pengetahuannya bertambah. Akumulasi hasil bacaan ini kemudian mempengaruhi cara berpikirnya. Jika bacaan yang dipilih tepat lalu diolah secara baik maka akan muncul pemikiran yang konstruktif.

 

Bagi saya, membaca itu bukan hanya soal kuantitas. Membaca banyak itu penting tetapi jika tidak memiliki banyak kesempatan maka membaca sedikit demi sedikit merupakan strategi yang penting dipertimbangkan. Di tengah kesibukan yang terkadang sangat padat, saya tetap memaksakan diri membaca minimal sepuluh halaman. Hanya sepuluh halaman tetapi jika konsisten, sebulan saya bisa mendapatkan 1 buku tebal. Ya lumayanlah daripada tidak membaca sama sekali.

Budaya literasi berupa budaya membaca dan menulis sesungguhnya merupakan budaya produktif. Disebut demikian karena seseorang yang membaca berarti terus belajar, sedangkan menulis sesungguhnya adalah produksi dan reproduksi dari hasil bacaan.

Bacaan demi bacaan itu ternyata bermanfaat saat saya menulis. Saya meyakini betul bahwa kemampuan saya menulis didukung oleh kemampuan saya membaca. Ya, membaca membuat saya bisa menulis. Jadi mari kita bangun tradisi literasi. Lewat membaca dan menulis aka nada banyak hikmah yang acapkali tidak kita duga. Jika tidak percaya mari dicoba. Tapi jika berhadapan dengan masalah ya jangan gampang putus asa.

14 komentar:

  1. Terima kasih Sgt inspitarif. Siap pak Doktor

    BalasHapus
  2. Quote: Lewat membaca dan menulis akan ada banyak hikmah yang acapkali tidak kita duga.

    BalasHapus
  3. Matur nuwun prof mugi berkah manfaat

    BalasHapus
  4. Betul sekali Gus, membaca memperbanyak kosa kata dalam menulis

    BalasHapus
  5. Saya selalu berusaha mengaitkan budaya membaca satu paket dengan menulis. Itu juga yang menjadi pegangan saya dalam gerakan literasi sekolah. Namun kenyataannya tidak semua guru satu mindset. Ketika saya berusaha meyakinkannya....yang terjadi kebingungan mungkin lantaran tidak biasa membaca....dan membaca 15 menit bagi siswa jadi kabur maknanya.Untuk meyakini hubungan kuat antara membaca dan menulis diperlukan penjelasan atau logika yang Alhamdulillah sering saya temukan di tulisan Bapak. Terimakasih tulisannya selalu membawa semangat maju...sebagai teman di tengah kesendirian pegiat literasi yang biasa ada dalam satu sekolah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Terima kasih banyak Pak Hariyanto.

      Hapus
  6. Selalu menginspirasi. Terima kasih, Pak.

    BalasHapus
  7. Terima kasih mas Doktor, menginspirasi

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.