Tradisi Keilmuan Islam dalam Huruf Pegon

Juli 16, 2021


 

Ngainun Naim

 

Saya mulai belajar agama Islam di madrasah diniyah. Lokasinya di Masjid Baitul ‘Ibad Desa Sambidoplang Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung. Kami biasa menyebutnya sebagai Mejid Etan karena di desa kami ada dua masjid. Satunya lagi disebut Mejid Kulon.

Di madrasah diniyah saya belajar dasar-dasar agama. Awalnya belajar membaca dan menulis huruf hijaiyah sampai membaca Al-Qur’an. Di madrasah ini saya mendapatkan pengetahuan dasar Islam yang sangat berguna sampai sekarang. Kepada para guru saya di madrasah diniyah saya menyampaikan terima kasih yang terkira. Tanpa jasa besar mereka, saya tidak akan bisa menjalankan ajaran Islam secara baik.

Seiring waktu saya juga belajar kitab dasar, mulai Aqidatul Awam, Mabadil Fiqh, Awamil, dan beberapa kitab lainnya. Satu hal yang saya ingat bahwa tanpa sadar saya belajar huruf pegon. Ya, huruf Arab tetapi bahasanya Bahasa Jawa.

Kini, puluhan tahun setelah saya belajar saya mendapatkan buku keren yang mengulas tentang pegon. Buku ini karya dosen muda UIN SATU Tulungagung, Refki Rusyadi. Dosen Bahasa Arab yang juga merupakan kandidat doktor tersebut menulis sebuah buku bergizi yang penting untuk dikaji. Buku tersebut berjudul Bahasa Arab Pesantren, Sejarah dan Tradisi Literasi Pegon di Nusantara.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Refki Rusyadi karena mengajak saya untuk kembali menelusuri kenangan saya saat awal belajar Islam. Juga saat saya melanjutkan studi di pondok pesantren. Bedanya, Refki Rusyadi menjadikan Bahasa Arab sebagai pilihan keilmuan sehingga pengetahuannya sangat dalam, sementara saya tidak. Jujur sampai saat ini pengetahuan saya dalam Bahasa Arab jauh dari kata memadai.

Buku ini memberikan banyak sekali informasi berharga. Saya sepakat dengan KH Robikin Emhas yang menulis di Kata Pengantar bahwa buku ini cukup genuine karena merunut secara detail akar sejarah huruf pegon, mengupas karakteristiknya, dan fase-fasenya (halaman iii-iv). Secara telaten Refki menelusuri dan kemudian menyajikan data yang sangat kaya terkait pegon.

Sebagai dosen Bahasa Arab, saya cukup memahami kalau Refki galau. Menurut Refki, bahasa Arab belum mendominasi sebagaimana bahasa Inggris karena berkaitan dengan banyak faktor. Salah satu yang menjadi penghambat, sejauh analisis Refki, karena keluarga Muslim tidak semuanya mengajarkan bahasa Arab. Pada titik inilah menurut Refki pesantren menjadi harapan (halaman 9-11). Tentu menjadi persoalan ketika pesantren sendiri tidak serius mengajarkan Bahasa Arab. Sebab banyak kritik tajam juga karena ada kecenderungan sekarang ini anak mondok tidak juga menguasai Bahasa Arab dengan baik.

Refki juga melakukan analisis terhadap kelemahan pembelajaran Bahasa Arab selama ini. Sejauh riset yang dilakukan, ia sampai pada kesimpulan bahwa ada tiga sebab yang mendasar. Pertama, orientasinya yang kurang tepat karena hanya ditujukan sebagai piranti memahami ajaran Islam. Kedua, bahasa Arab kalah dengan Bahasa Inggris karena umat Islam tidak menjadikan sebagai Bahasa ekonomi dunia. Ketiga, strategi pembelajaran yang bertumpu pada gramatikal (halaman 16-17).

Buku ini menarik karena tidak hanya berbicara sejarah huruf pegon tetapi juga membahas konteks perjalanan penulisnya. Refki berkisah bagaimana ia belajar Bahasa Arab sejak kecil hingga sekarang sebagai kandidat doktor. Refki cukup konsisten menekuni bidang ini. Konsistensi ini menjadi modal sukses dalam menekuni sebuah bidang. Buku ini adalah bukti konsistensi Refki.

Selamat untuk Refki Rusyadi. Semoga segera terbit buku berikutnya dan segera menjadi doktor. Aamiiiinnnnn.

 

Trenggalek, 16 Juli 2021

4 komentar:

  1. Ulasan yang menarik pak Doktor.
    Penggunaan huruf jawi atau pegon dalam bahasa Jawa untuk pengajaran ilmu keagamaan punya peran penting pada sekolah keagamaan di sekitar kita era 70-80 an. Pengenalan hazanah Islam generasi masa itu dapat diperoleh melalui tafsir al ibriz, al iqlil, kitab teologi aqidatul awam dls. Masa itu diluar buku sekuler, selalu ditulis dalam huruf pegon, sehingga dengan 'terpaksa' harus menguasai menulis dan membaca huruf jawi.

    Sekarang sudah sangat berkurang di kalangan anak pesantren, terutama pondok pondok modern. Beberapa anak keponakan yang jebolan pesantren bisa membaca turats, tetapi tidak mahir membaca pegon. Apakah fenomena ini juga terjadi di pondok tradisional atau diniyah saya kurang tahu.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.