Hikmah Kartu Tertinggal

Februari 09, 2024


Ngainun Naim

 

Kartu tol milik saya agak bermasalah. Ketika diisi pulsa tidak sukses. Karena itu saya sering meminjam kartu tol milik Elly, istri saya. Selain isi pulsanya masih lumayan, juga relatif tidak ada masalah saat diisi dan digunakan untuk bepergian yang mengharuskan masuk ke jalan bebas hambatan tersebut.

Elly sendiri jarang bepergian yang mengharuskan masuk tol. Jadi kartunya juga jarang diminta. Kartu tersebut saya letakkan di mobil kantor yang sering saya gunakan.

Kartu tidak saya letakkan di dompet karena bisa menambah tebal dompet. Juga peluang cepat rusak karena mungkin ikut tertekuk saat duduk. Dengan diletakkan di dalam mobil, kartu bisa langsung ambil sambil diperlukan.

Persoalan muncul ketika kami bepergian ke Madiun pada 31 Desember 2023. Saat berangkat tidak ada masalah karena perjalanan dari Trenggalek tidak melewati jalan tol. Pulangnya kami berencana ke Tulungagung sehingga jalur yang bisa dipilih adalah masuk tol dari Madiun, keluar di pintu Tol Bandar. Setelah perjalanan dilanjutkan ke selatan menuju Tulungagung.

Namun saya teringat bahwa kartu tol ada di mobil dinas. Berarti tidak mungkin melewati jalan tol kecuali membeli kartu baru.

Tidak ada pilihan lagi. Beberapa swalayan yang bertebaran di pinggi jalan raya Madiun sampai Caruban tidak ada yang menjual kartu tol baru. Adanya isi ulang.

Saya sampaikan bahwa tidak perlu lagi naik tol. Kita nikmati perjalanan. Kita bahkan akan mendapatkan bonus untuk melewati Bandara Dhoho. Elly sepakat. Kalau penumpang di belakang—dua anak kami—ya pasti sepakat.

Saya sungguh bersyukur bisa melewati jalanan Madiun Nganjuk. Jalanan ini dulu cukup sering saya lewati, khususnya ketika saya studi S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, antara tahun 2007-2011. Jalanan ini, dengan demikian, mendedahkan ingatan tentang perjalanan hidup.

Jalanan ini juga cukup indah. Banyak pemandangan yang menarik perhatian. Juga mengajak kita untuk melakukan refleksi bersama agar mau bersyukur.

Tetiba ingatan melayang ke tahun 2000. Saat itu saya sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Sesampai di Caruban, Bus Harapan Jaya yang saya tumpangi belok kanan. Kami makan sore di situ. Sebuah rumah makan padang yang sangat besar dengan puluhan pengunjung yang tertampung di bus dan mobil.

Namun saat saya lewat kemarin, keadaan sudah berubah. Gurat kejayaan di masa lalu tertutup oleh rumput dan bangunan yang lapuk karena sudah tidak digunakan. Sungguh tragis.

Elly berkomentar ketika menemukan sekian banyak rumah yang jelas terlihat tidak berpenghuni. Rumah yang kotor dan banyak bangunan yang lapuk. Berbagai pertanyaan diajukan ke saya dan tentu saya tidak tahu jawabannya.

Tidak lewat jalan tol memberikan hikmah yang besar. Kami menemukan banyak pemandangan yang luar biasa. Bertahun-tahun tidak lewat, ada begitu banyak perubahan. Warung dan restoran yang dulu berjaya, banyak yang surut, bahkan tutup. Namun ada juga warung dan restoran baru yang ramai.

Rumah-rumah penduduk semakin banyak di tepian jalan namun rumah kosong juga banyak. Kami berbincang-bincang sepanjang perjalanan terkait hal ini. Elly baru kali ini melihat dengan cermat pemandangan di sepanjang jalanan dari Madiun, Caruban, Saradan, Nganjuk, sampai di Tulungagung.

Tidak lewat tol ternyata memberikan berkah. Kami akhirnya sampai ke Bandara Dhoho Kediri. Meskipun sekadar lewat, setidaknya tahu lokasinya. Selalu saja ada hikmah dari setiap peristiwa.

 

Trenggalek, 20 Januari 2024

6 komentar:

  1. Betul pa selalu ada hikmah disetiap peristiwa, terimakasih sudah menginspirasi dan memotivasi saya dengan cerita sederhana ini namun sangat bermakna

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih berkenan membaca dan meninggalkan komentar

      Hapus
  2. Selamat Prof. masa lalu adalah bagian dari pengalaman sebagai refleksi diri terhadap Tuhan, sesama manusia dan alam semesta.

    BalasHapus
  3. Perjalanan yang menyenangkan Prof. Menelusuri jalan-jalan memori

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.