PMII dan Dunia Intelektual

Maret 18, 2024


Ngainun Naim

 

Saya sedang menikmati sebuah artikel yang terbit beberapa tahun lalu di Journal of Indonesian Islam Volume 11, Nomor 2, Desember 2017. Artikel dengan judul ”Nahdlatul Ulama and the Production of Muslim Intellectuals in the Beginning of 21st Century Indonesia” ini karya Khoirun Niam, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya. Pembaca yang ingin membaca artikel ini bisa mendownload di: http://jiis.uinsby.ac.id/index.php/JIIs/article/view/555.

Saya tidak akan mereview atau membahas isi artikel penelitian bergizi ini. Silahkan dibaca dan disimpulkan sendiri. Saya hanya akan fokus pada bagian tertentu di artikel ini dalam kaitannya dengan PMII.

Akhir dasawarsa 1990-an menjadi penanda penting transformasi pendidikan bagi warga nahdliyin. Jika sebelumnya warga nahdliyin banyak yang menempuh pendidikan di pondok pesantren, pada tahun 1990-an semakin banyak kader nahdliyin yang menjadi sarjana. Prof. Dr. Nurcholish Madjid bahkan menyebutnya sebagai ”masa panen sarjana”.

Tentu ini fenomena yang menggembirakan. Bagaimana pun kehadiran sarjana memiliki makna penting dalam konteks kehidupan sosial kemasyarakatan. Sarjana jelas memiliki kemampuan intelektual yang lebih bagus dibandingkan dengan mereka yang tidak mengenyam bangku pendidikan.

Selain mengenyam pendidikan di bangku kuliah, mereka juga berorganisasi. PMII merupakan pilihan bagi mayoritas generasi muda nahdliyin, meskipun ada juga yang memilih GMNI atau HMI. Tentu pilihan organisasi ini tidak bisa disederhana karena berkaitan dengan banyak aspek yang saling berkait-kelindan satu sama lain.

Era 1990-an PMII menjadi salah satu organisasi yang cukup akrab dengan dunia intelektual. Dikatakan di artikel bahwa, ”PMII members usually have a strong root in traditional Islamic books. Their reading consists of not only traditional books but also contemporary Islamic books” [h. 361].

Pernyataan ini saya kira penting menjadi bahan renungan bagi para aktivis PMII. Di zaman itu, aktivis PMII cukup kuat tradisi intelektualnya. Mereka mampu membaca kitab kuning dan buku-buku kontemporer. Jadi basis ilmu agamanya cukup kuat baru kemudian mengembangkan sumber bacaan kontemporer.

Membaca buku dan mendiskusikan isi buku merupakan fenomena yang tumbuh subur. Meskipun, tentu saja, tidak semua aktivis PMII melakukannya. Hanya sebagian saja. Namun demikian, capaian intelektual ini memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan. Bahkan sejarah mencatat bahwa aktivis PMII era itu sebagian menjadi intelektual yang hari-hari ini cukup mewarnai berbagai bidang kehidupan.

Anggota PMII sekarang ini penting untuk merenungkan jejak sejarah ini. Harus ada kader-kader yang memiliki minat khusus untuk menekuni dunia intelektual. Aktivitasnya adalah membaca, diskusi, menulis, dan meneliti. Jika ada beberapa yang menekuni bidang ini secara konsisten, akan banyak pengaruhnya bagi dinamika PMII.

Akses bacaan sekarang ini terbuka lebar. Internet menyediakan banyak bahan dan media untuk aktualisasi diri. Tinggal kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan potensi intelektual.

 

Tulungagung, 18 Maret 2024

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.