Pendidikan, Tradisi Belajar, dan Dunia Menulis

Juni 01, 2024



Ngainun Naim

 

Salah satu agenda yang saya rencanakan saat ada kesempatan berkunjung ke Mataram pada 29-30 Mei 2024 adalah silaturrahim ke Prof. Ir. Suhubdy, Ph.D. Beliau merupakan Guru Besar Universitas Mataram, Pakar Nutrisi Ruminansia/Herbivora dan Bioekosistem Padang Penggembalaan.

Kami terhubung melalui media sosial.  Saya tidak ingat persis mulai kapan terhubung dengan beliau. Data komunikasi di HP merekam ada komunikasi via WA pada 11 Oktober 2020. Komunikasi ini merupakan tindak lanjut dari acara Bincang-Bincang Nasional Online tentang Strategi Penyelesaian Studi Doktor Tepat Waktu yang diselenggarakan oleh Penerbit Dotplus Publisher Riau. Kebetulan Prof. Suhubdy, Ph.D dan saya diundang untuk menjadi narasumber.

Kegiatan ini menghasilkan output berupa buku antologi. Judulnya cukup menarik, yaitu Kuliah Doktor Siapa Takut? Kumpulan Kisah Menempu Studi Doktoral (Bengkalis: Dotplus Publisher, 2021). Buku ini, sebagaimana tertera di judul, berisi kisah penulisnya dalam menempuh studi doktoral.

Setelah momentum kegiatan tersebut, kami berinteraksi melalui WA. Kami juga tergabung di WA Grup Penulis Dotplus Publisher. Meskipun belum pernah bertemu secara langsung, saya merasa dekat dengan beliau.

Tahun 2022 akhir saya ada tugas untuk mengisi seminar di sebuah hotel di Mataram. Saya menghubungi Prof. Suhubdy. Sayang, karena satu dan lain hal, kami belum bisa bertemu.



Baru pada kali ini bisa bertemu. Prof. Suhubdy, Ph.D berkenan menemui saya di hotel tempat saya menginap. Sungguh ini sebuah keberkahan yang membahagiakan. Walaupun tidak lama, kami berbincang tentang banyak hal. Agar hasil perbincangan tidak hilang begitu saja, saya mengikatnya di catatan sederhana ini.

Ada beberapa hal yang bisa saya rekam. Pertama, disiplin. Salah satu budaya di masyarakat kita adalah disiplin. Banyak orang yang kurang menghargai waktu. Jika ada undangan, biasa datang terlambat. Jika pun ada yang tepat waktu, itu belum semua. Akibatnya, kegiatan mundur dari jadwal yang direncanakan.

Bagi yang terbiasa disiplin, kondisi ini tentu kurang menggembirakan. Agenda kegiatan yang dirancang bisa berubah dan tidak sesuai dengan harapan. Disiplin, dalam aspek apa pun, memberikan banyak manfaat dalam kehidupan.

Kedua, kegelisahan terhadap potret pendidikan kita. Sesungguhnya ini bagian dari keprihatinan banyak pihak. Dunia pendidikan sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak hal yang kurang sesuai dengan spirit dasar yang semestinya tumbuh dengan baik di dunia pendidikan kita, khususnya di perguruan tinggi. Tentu, kita tidak boleh hanya mengeluh. Langkah perbaikan diperlukan dari hal sederhana yang mampu kita lakukan. Lewat cara semacam ini setidaknya kita ikut berkontribusi bagi perbaikan dunia pendidikan.

Ketiga, dunia menulis. Sivitas akademik semestinya mampu memproduksi pengetahuan secara konstruktif. Aktivitas sehari-hari yang berkaitan secara langsung dengan dunia keilmuan sesungguhnya cukup potensial bagi tumbuh suburnya budaya menulis. Sayang, kenyataan belum sesuai dengan harapan.

Tradisi belajar belum tumbuh subur pada semua mahasiswa kita. Ini menjadi tantangan besar. Kehadiran Artificial Intellegence (AI) yang sedemikian luar biasa telah menggerus potensi dasar yang seharusnya ditumbuhkembangkan.

AI semestinya diposisikan sebagai alat bantu dalam menghasilkan karya. Namun realitasnya tidak selalu demikian. Banyak persoalan etika yang muncul dengan kehadiran AI. Bagi dosen, pengetahuan tentang AI menjadi keharusan. Namun konteks etika perlu dikedepankan agar produk ilmiah yang dihasilkan tidak menabrak batas-batas normatif yang telah digariskan.



Tradisi belajar yang kokoh adalah penyangga. Jika tradisi belajar sudah tumbuh secara kokoh, dinamika dan perkembangan yang datang tidak akan mengoyak tradisi belajar yang telah mengakar.

AI merupakan realitas yang tidak mungkin untuk ditolak atau dihindari. Ia telah ada, hadir, dan banyak dimanfaatkan, termasuk oleh kalangan akademik. Persoalannya, bagi mereka yang belum memiliki tradisi belajar, AI akan diposisikan sebagai sarana untuk mempermudah pekerjaan tanpa berpikir proses, penguasaan materi, dan kontribusi personal. Di sinilah fenomena AI perlu dilihat secara kritis.

Keempat, salah satu ilmu yang harus dipelajari oleh mahasiswa adalah metodologi penelitian. Ilmu ini sangat penting. Cara berpikir ilmiah, cara melaksanakan penelitian, dan hal-hal lain yang terkait ada di metodologi penelitian.

Sayangnya, ilmu ini sekarang cenderung kurang mendapatkan perhatian. Ironinya, ada kampus yang menghapus matakuliah metodologi penelitian. Apa pun argumen yang digunakan, kebijakan penghapusan matakuliah metodologi penelitian disayangkan. Pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam melaksanakan penelitian tidak lagi dimiliki secara baik karena tidak diajarkan. Adanya matakuliah metodologi penelitian saja banyak yang belum menguasai, apalagi kemudian justru dihapus.

Kelima, buku dan tradisi belajar. Sekarang ini zaman digital. Namun bagi generasi yang lahir sebelum zaman digital, buku cetak tidak tergantikan. Kenikmatan membaca terletak pada penelusuran halaman demi halaman buku. Buku cetak, dalam konteks ini sebagaimana yang dilakukan oleh Prof. Suhubdy, Ph.D. tetap terus dibeli karena manfaatnya sangat besar.

Buku bukan sekadar deretan huruf. Di dalamnya ada proses intelektual yang serius. Buku juga aktualisasi dari eksistensi pembacanya. Jadi pembaca juga memiliki konteks penting dengan buku yang dimilikinya.

Memiliki banyak buku itu penting. Ia lambang intelektualitas. Semakin banyak buku yang dimiliki berarti pemiliknya memiliki potensi untuk membaca lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak memiliki banyak buku.

Memang realitasnya tidak selalu begitu. Ada juga yang memiliki banyak buku sebatas sebagai kebanggaan. Meskipun demikian ini tetap perlu diapresiasi sebagai bentuk kecintaan terhadap buku.

 

Tulungagung, 1 Juni 2024

12 komentar:

  1. Pada jenjang sekolah dasar dan menengah, AI menjadi mesin pencari jawaban. Sehingga, potensi siswa tidak berkembang. Ironisnya setiap menjumpai kesulitan sedikit saja, mereka langsung menggunakan AI. Hal ini menjadikan mereka malas untuk belajar.

    BalasHapus
  2. Sayang menginspirasi Prof.NAIM, MATUR NUWUN

    BalasHapus
  3. Sepakat prof dengan pernyataan prof bahwa "Tradisi belajar yang kokoh adalah penyangga. Jika tradisi belajar sudah tumbuh secara kokoh, dinamika dan perkembangan yang datang tidak akan mengoyak tradisi belajar yang telah mengakar.". Kereeen dan mantab.

    BalasHapus
  4. Terima kasih prof, tulisannya sangat menginspirasi, saya setuju dengan point pertama tentang disiplin, masih banyak dari kita yang belum bisa disiplin terutama disiplin tentang waktu, yang mana ketika ingin melaksanakan suatu agenda dengan waktu yang sudah ditentukan, akhirnya ngaret dan tidak jarang agenda yang telah dirancang tidak berjalan dengan maksimal, apalagi ketika sedang melaksakan program kerja dalam organisasi, hampir semua peserta datang tidak tepat waktu, saya juga sering tidak tepat waktu ketika harus hadir pada suatu agenda, namun sedikit-sedikit belajar untuk disiplin menghargai waktu. Terima kasih prof atas tulisan yang sangat menginspirasi ini.

    BalasHapus
  5. Terima kasih banyak Prof, sangat bermanfaat dan inspiratif.....saya jadi berani belajar menulis salah satunya karena motivasi dari Prof. Naim....

    BalasHapus
  6. Luar biasa Prof, memiliki kolega di berbagai penjuru nusantara

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.